Lompat ke konten

Toko ini dinamai SANJAI ANNA

Nama toko ini diambil dari nama anak tunggal pendirinya, Anna.

Didirikan Taslim Ridha dan Susri Dewita pada 2003. Sudah 23 tahun menggoreng.

Kenapa ada

Karena orang terus mengetuk pintu.

Sanjai Anna berdiri sejak 2003 sebagai usaha rumahan yang hanya membuat karak kaliang, tanpa toko. Permintaan warga Payakumbuh yang tidak berhenti datang membuat pemiliknya membuka pintu depan tempat produksi sebagai toko pertama.

Dapur produksi, pagi hari
Riwayat

Satu benang, sejak 2003.

  1. 2003

    Sebuah dapur, tanpa toko

    Taslim Ridha dan Susri Dewita mulai membuat karak kaliang dari dapur rumah. Tidak ada etalase, tidak ada papan nama. Yang ada hanya satu jenis kue dan nama anak tunggal mereka, Anna, yang dipakai sebagai nama usaha.

  2. 2004

    Pintu depan dibuka

    Permintaan warga Payakumbuh datang lebih cepat daripada kemampuan dapur melayaninya. Setahun kemudian sebuah toko kecil dibuka persis di depan tempat produksi, supaya orang tidak perlu lagi mengetuk pintu rumah.

  3. 2010

    Toko diperluas

    Enam tahun berjualan di ruang yang sama membuat satu hal jelas: tokonya sudah terlalu kecil. Bangunan direnovasi dan diperlebar, dan untuk pertama kalinya interiornya dirancang, bukan sekadar diisi.

  4. 2014

    Wajah yang lebih modern

    Renovasi kedua mengubah tampilan toko menjadi lebih terang dan lebih mudah dijelajahi. Rak diatur ulang agar setiap jenis keripik bisa dilihat, dicium dan dicicip sebelum dipilih.

  5. 2015–2019

    Nama yang dibawa pulang

    Lima tahun ini adalah masa keemasan. Sanjai Anna dikenal jauh melewati Payakumbuh, dibawa pulang oleh perantau, rombongan wisata dan keluarga yang singgah dalam perjalanan lintas Sumatera.

  6. 2020

    Jalan yang tiba-tiba sepi

    Pandemi menutup jalur wisata dan penjualan turun tajam. Di tahun yang sama, alih-alih menahan diri, keputusan justru diambil ke arah sebaliknya: menyiapkan cabang baru untuk hari ketika orang kembali bepergian.

  7. 2021

    Cabang kedua buka

    Begitu pembatasan mengendur, cabang yang sudah disiapkan sejak tahun sebelumnya langsung beroperasi. Taruhan itu terbayar: penjualan naik kembali, kali ini dari dua pintu sekaligus.

  8. Kini

    Karak kaliang yang sama, jangkauan yang lain

    Kue pertama dari 2003 masih ada di rak, dibuat dengan takaran yang sama. Yang berubah hanya jangkauannya: kini pesanan datang lewat layar, dan dikirim ke kota-kota yang belum pernah didatangi pendirinya.

Kue pertama

Yang dibuat duluan, masih dibuat.

Sebelum ada toko, sebelum ada rak, sebelum ada nama di papan — yang ada hanya karak kaliang. Bentuknya melingkar seperti angka delapan, digoreng kering, gurih dengan sedikit manis di ujung.

Takarannya tidak pernah diubah sejak 2003. Bukan karena tidak ada cara yang lebih murah, tapi karena pelanggan yang sudah 23 tahun membeli kue ini akan langsung tahu begitu ada yang bergeser.

Karak kaliang, dekat
Toko

Bukan tempat belanja. Tempat berhenti.

Halaman depan toko, sore hari

Jalan lintas Sumatera membuat Payakumbuh jadi tempat orang berhenti, bukan tempat orang menuju. Toko ini dibangun untuk itu: cukup lapang untuk satu bus, cukup teduh untuk menunggu, dan cukup lengkap supaya satu kali berhenti sudah selesai semuanya.

Setiap hari, 08.00 – 21.00 WIB

  • Parkir luas

    Muat bus pariwisata dan mobil keluarga, tepat di depan toko.

  • Mushalla

    Ruang salat bersih dengan tempat wudu terpisah.

  • Toilet

    Dibersihkan tiap jam, terpisah untuk pria dan wanita.

  • Pembayaran lengkap

    Tunai, QRIS, kartu debit, dan transfer bank.

  • Ruang tunggu keluarga

    Tempat duduk teduh sambil anak-anak mencicipi.

  • Cicip gratis

    Setiap jenis keripik boleh dicoba sebelum dibeli.

Kepercayaan

Angka yang bisa dihitung sendiri.

  • 23tahun

    Menggoreng tanpa putus sejak 2003.

  • 2outlet

    Keduanya di Payakumbuh Barat, berjarak beberapa menit.

  • 90jenis

    Dari karak kaliang sampai rakik kacang, semuanya bisa dicicip dulu.


Yang dituju

Menjadi tempat pertama yang diingat orang ketika hendak membawa pulang rasa Minangkabau.

Yang dikerjakan
  • Menjaga resep dan takaran yang sama sejak hari pertama.
  • Mengolah bahan dari petani dan pemasok Payakumbuh.
  • Membuat toko senyaman ruang tamu bagi keluarga yang singgah.
  • Mengantar pesanan ke seluruh Indonesia tanpa mengubah rasa.
Yang dipegang

Empat hal yang tidak ditawar.

  1. Takaran tidak berubah

    Resep yang sama sejak hari pertama, meski bahannya naik harga.

  2. Dicicip dulu, baru dibeli

    Tidak ada yang perlu ditebak dari balik plastik.

  3. Bahan dari tetangga sendiri

    Talas, singkong, dan kacang dari petani sekitar Payakumbuh.

  4. Dilayani seperti tamu

    Yang datang bukan pembeli, tapi orang yang sedang singgah.